14/05/2022
Life planner at Manulife Indonesia
Cara Mudah Hitung Kebutuhan Uang Pertanggungan (UP) Asuransi Jiwa
Dengan memiliki Asuransi jiwa, keluarga yang ditinggalkan bisa memiliki bekal finansial yang memadai berupa Uang Pertanggungan (UP) untuk melanjutkan hidup ketika tiba-tiba pencari nafkah keluarga meninggal dunia. Namun, bagaimana cara mengetahui nilai Uang Pertanggungan (UP) Asuransi jiwa yang tepat?
Mengetahui berapa kebutuhan Uang Pertanggungan (UP) yang memadai adalah hal penting supaya kita terhindar dari kondisi under-insured hanya karena nilai proteksi tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Untuk mengetahui berapa Uang Pertanggungan (UP) Asuransi jiwa yang sebaiknya dimiliki sesuai kebutuhan dan kondisi finansial, kita bisa mengikuti beberapa cara perhitungan berikut ini.
Income Replacement Based
Pendekatan ini terbilang sederhana yaitu dengan menghitung kebutuhan Uang Pertanggungan (UP) berdasarkan rata-rata pendapatan yang diterima setiap bulan yang disetahunkan, lalu dikalikan dengan jangka waktu dana tersebut bisa menopang kehidupan ahli waris. Metode ini tidak memperhitungkan pertumbuhan dana di masa depan ataupun faktor inflasi.
Contoh penghitungannya,
Budi adalah pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga dan menanggung kehidupan istri dan satu anak berusia 8 tahun saat ini. Penghasilan Budi mencapai Rp10 juta per bulan. Budi ingin memproteksi penghasilannya dengan Asuransi jiwa setidaknya hingga si anak berusia 23 tahun, yaitu usia di mana anak dianggap sudah bisa mencari pendapatan sendiri. Dengan begitu, jangka waktu proteksi Asuransi jiwa yang dibutuhkan Budi mencapai 15 tahun. Artinya, Uang Pertanggungan yang dibutuhkan adalah Rp10juta perbulan selama 15 tahun yakni Rp1,8 miliar.
Human Life Value Based
Pendekatan ini memperhitungkan pendapatan setiap bulan yang disetahunkan dan memasukkan p**a asumsi pertumbuhan dana. Diharapkan, Uang Pertanggungan (UP) akan ditempatkan di sebuah instrumen investasi yang memberikan pendapatan sebesar penghasilan yang diproteksi.
Mengacu pada imbal hasil Obligasi Ritel Indonesia (ORI) terakhir yaitu ORI019 yang memberikan return 5,57% per tahun, maka jumlah Uang Pertanggungan yang dibutuhkan adalah sebesar Rp10 juta perbulan selama setahun dibagi 5,57% yakni Rp2,15 miliar.
Dari contoh ini, maka kelak kala Uang Pertanggungan (UP) keluar maka ahli waris akan menempatkan dana tersebut dalam instrumen rendah risiko seperti ORI di mana imbal hasil tetap per bulannya bisa digunakan untuk menutup kebutuhan ahli waris.
Needs Analysis Approach
Metode ini lebih kompleks karena fokus pada pemenuhan kebutuhan biaya hidup ahli waris termasuk kebutuhan spesifik seperti dana pendidikan anak dan lain-lain. Pendekatan ini juga memperhitungkan nilai Asuransi jiwa yang sudah dimiliki Tertanggung.
Sebagai contoh, dalam kasus Budi, kebutuhan hidup anak dan istri masing-masing mencapai Rp3,5 juta per bulan. Sedangkan kebutuhan dana pendidikan anak hingga pendidikan tinggi mencapai Rp1,5 miliar. Diketahui p**a bahwa Budi sudah memiliki Asuransi jiwa dari tempat kerja senilai Rp500 juta dan nilai aset sekitar Rp500 juta.
Dengan berbagai variabel tersebut, maka kebutuhan Uang Pertanggungan (UP) Asuransi jiwa Budi adalah dengan menjumlahkan perkiraan kebutuhan biaya hidup istri, perkiraan kebutuhan biaya hidup anak hingga usia anak mandiri, dan dana sekolah anak hingga pendidikan tinggi. Kemudian hasilnya dikurangi dengan Nilai UP Asuransi jiwa dari kantor dan nilai aset yang bisa dicairkan.
Itulah cara menghitung kebutuhan Uang Pertanggungan (UP) Asuransi jiwa yang bisa kamu ikuti. Tidak sulit, bukan? Dengan mengetahui berapa Uang Pertanggungan (UP) yang kamu butuhkan secara memadai, risiko keuangan keluarga bisa terkelola lebih baik.